Short poem
Tatkala langit menampilkan kebiruan dari pantulan lautan bak membiru jingga
Satu tanda kulihat dari rangkaian para burung yang menari di kumpulan awan nan putih merona
Dirimu tak kunjung kembali juga
Walau kunanti hingga akhir saatku menutup mata
Kusadari dikala kau menjauh kesana
Ahh….. akankah kita bersama
Walau hanya sekali lagi saja?
Tapi biarkan aku hanya menatap tanpa arah
Hanya aku yang tak mampu menandingi keindahanmu yang mempesona
Tuhan mengapa harus dia?
Tak adakah seorang lain yang menggantikannya?
Biarkan aku membuatmu menjadi kenangan tanpa suka
Hanyalah keabadian dari duka dan lara
Mampukah aku bertahan hingga akhirnya
Berdiri tegar tanpa menatap pada dirinya
Sudahlah ku tak akan lagi menginginkanmu lagi untuk yang kedua….
Entah mengapa hatiku rasanya tersayat-sayat kembali di waktu-waktu ini. Entah mengapa kenangan yang indah dan kenangan pahit itu menjadi satu di dalam jiwa ini. Sudah berapa kali aku mencoba untuk melupakan dan tidak lagi melintasi keindahan bersama dengannya. Namun entah ada sesuatu yang ada di dalam diriku ini yang tidak dapat aku pungkiri kalau aku memang sedang merindukannya. Tapi aku hanya bisa bilang kalau aku tetap berada di dalam masa-masa seperti ini terus dan aku tetap berada di masa lampau mengingat terus akan kehadiranmu di dalam hidupku yang membeku ini, aku tak akan maju dan aku akan tetap berada di dalam kenangan itu tanpa ada kemajuan terus.
Jadi mungkin aku agak sedikit kejam terhadapmu kali ini namun aku mau agar tidak hanya aku yang egois bahwa aku mau maju sendiri tetapi aku mau kalau kita berdua bisa maju dan tidak terhambat oleh hambatan apapun. Biarkan kita maju dan tidak terhambat oleh kenangan ini. Nah sekarang saatnya maju. Maafkan aku apabila di waktu-waktu ke depan mungkin aku agak sedikit tidak enak terhadapmu atau aku juga bisa mengerti keadaan kalau tiba-tiba saja kau tidak mau berjumpa lagi denganku.